Kondisi Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia Triwulan III Tahun 2019

   Kondisi perekonomian suatu negara pada umumnya dilihat dari kondisi produk domestik bruto (PDB), yang mencerminkan baik buruknya kondisi ekonomi suatu negara. PDB pada dasarnya merupakan jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu negara tertentu, atau merupakan jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi. Produk Domestik Bruto (PDB) di Indonesia dapat dibagi menjadi PDB menurut lapangan usaha dan pengeluaran.

A. PDB Menurut Lapangan Usaha 
   Produk Domestik Bruto menurut lapangan usaha adalah jumlah nilai tambah atas barang dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di wilayah suatu negara dalam jangka waktu tertentu berdasarkan lapangan usaha sesuai dengan KBLI 2009 dan KBKI 2010. Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat bahwa PDB berdasarkan harga berlaku pada triwulan III 2019 mengalami peningkatan menjadi sebesar 4.067,4 triliun dibandingkan dengan triwulan II 2019 sebesar 3.963,4 triliun, begitu juga dengan PDB berdasarkan harga konstan meningkat dari 2.735,2 triliun pada triwulan II menjadi 2.818,9 triliun pada triwulan III 2019 dan secara yoy tingkat PDB berdasarkan harga berlaku pada triwulan III 2019 juga lebih besar dibandingkan dengan PDB triwulan III 2018 dimana selisihnya adalah sebesar 232,2 triliun sedangkan berdasarkan harga konstan selisihnya adalah sebesar 134,8 triliun. 
   Dilihat dari jenis lapangan usaha dari triwulan II ke triwulan III tahun 2019 yang memiliki nilai PDB paling besar adalah Industri Pengolahan dimana selisih peningkatannya adalah sebesar 24,3 triliun menurut harga berlaku, sedangkan berdasarkan harga konstan selisih peningkatannya adalah sebesar 18 triliun. Selanjutnya jenis lapangan usaha dari triwulan II ke triwulan III tahun 2019 yang memiliki nilai PDB yang paling besar adalah Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 513,4 triliun pada triwulan II dan menjadi 529,5 triliun pada triwulan III 2019 berdasarkan harga berlaku, sedangkan berdasarkan harga konstan sebesar 359,4 triliun pada triwulan II menjadi 370,8 triliun pada triwulan III 2019. Kemudian disusul oleh sektor lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan dengan nilai PDB pada triwulan II sebesar 538 triliun kemudian meningkat menjadi 546,9 triliun pada triwulan III 2019 berdasarkan harga berlaku, sedangkan berdasarkan harga konstan sebesar 366,9 triliun pada triwulan II menjadi 370,6 triliun pada triwulan III 2019. Sedangkan jenis lapangan usaha yang memiliki nilai PDB terkecil pada triwulan II tahun 2019 adalah Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang sebesar 2,7 triliun dan stagnan pada triwulan III 2019 berdasarkan harga berlaku sedangkan berdasarkan harga kosntan sebesar 2,2 triliun pada triwulan II dan tidak berubah pada triwulan III 2019, kemudian disusul oleh jenis lapangan usaha Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 42,9 triliun pada triwulan II menjadi 44 triliun pada triwulan III 2019 berdasarkan harga berlaku sedangkan berdasarkan harga konstan sebesar 31,3 triliun pada triwulan II menjadi 32 triliun pada triwulan III 2019. 
Tabel 1. PDB Menurut Lapangan Usaha Berdasarkan Harga Berlaku dan konstan (triliun rupiah)

   Berdasarkan data Tabel 2, laju pertumbuhan PDB tertinggi secara (q-to-q) dari triwulan II 2019 terhadap triwulan I 2019 diperoleh oleh sektor pertanian, kehutanan dan perikanan dengan laju sebesar 13,8 persen kemudian dua laju pertumbuhan PDB yang tertinggi selanjutnya adalah sektor jasa pendidikan sebesar 3,87 persen, dan sektor administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib sebesar 3,77 persen. Sedangkan laju pertumbuhan PDB terendah dicapai oleh sektor jasa keuangan dan asuransi dengan laju sebesar -1,81 persen. Sementara laju pertumbuhan PDB tertinggi secara (q-to-q) dari triwulan III 2019 terhadap triwulan II 2019 diperoleh oleh sektor pengadaan listrik dan gas dengan laju sebesar 4,94 persen kemudian disusul oleh konstruksi sebesar 4,76 persen dan yang ketiga diduduki oleh jasa keuangan dan asuransi sebesar 4,66 persen. Sedangkan laju pertumbuhan PDB terendah dicapai oleh sektor administrasi pemerintah, pertahanan danjaminan sosial wajib sebesar -3,54 persen. 
Tabel 2. Laju Pertumbuhan PDB Menurut Lapangan Usaha (Persen)

   Dilihat dari laju pertumbuhan ekonomi secara year on year dari triwulan III terhadap triwulan III 2018 sektor yang memiliki laju pertumbuhan ekonomi tertinggi adalah sektor jasa lainnya sebesar 10,72 persen, kemudian disusul oleh sektor jasa perusahaan sebesar 10,22 persen. Sedangkan sektor yang memiliki laju pertumbuhan ekonomi terendah adalah sektor administrasi pemerintah, pertahanan dan jaminan sosial wajib sebesar 1,86 persen. Pada tabel tersebut juga tertera data sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2019. Data tersebut menjelaskan bahwa sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tertinggi berasal dari sektor industri pengolahan dengan sumber pertumbuhan ekonomi mencapai 0,86 persen, sedangkan sumber pertumbuhan ekonomi terendah berasal dari sektor pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang sebesar 0,00 persen. 
   Berdasarkan Tabel 3 yang menunjukkan data struktur PDB Indonesia menurut lapangan usaha pada triwulan III 2019, sektor yang paling mendominasi adalah sektor industri pengolahan dengan distribusi sebesar 19,62 persen. Selanjutnya disusul oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 13,45 persen dan sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 13,02 persen. Sementara sektor yang memiliki persentase distribusi terendah adalah sektor pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah, dan daur ulang yaitu sebesar 0,07 persen. 
Tabel 3. Struktur PDB Menurut Lapangan Usaha (persen)

B. PDB Menurut Pengeluaran 
   PDB menurut harga berlaku digunakan untuk mengetahui pergeseran, dan struktur ekonomi suatu negara. Sementara itu, PDB konstan digunakan untuk mengetahui kemampuan sumber daya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi secara riil dari tahun ke tahun atau pertumbuhan ekonomi yang tidak dipengaruhi oleh faktor harga. Berdasarkan data PDB menurut pengeluaran, dapat dilihat dari Tabel 4 bahwa PDB menurut pengeluaran atas dasar harga berlaku dan konstan paling besar dicapai oleh komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga dari triwulan II-III 2019. Kemudian disusul oleh komponen pembentukan modal tetap bruto. Sedangkan PDB menurut pengeluaran atas harga berlaku dan konstan yang terendah dicapai oleh komponen pengeluaran konsumsi LNPRT. 
Tabel 4. Laju Pertumbuhan PDB Menurut Pengeluaran (persen)

   Berdasarkan data laju pertumbuhan PDB menurut pengeluaran (Tabel 5), pertumbuhan ekonomi Indonesia secara (q to q) pada triwulan III 2019 terhadap triwulan II 2019 yang tertinggi dicapai oleh komponen ekspor barang dan jasa sebesar 10,87 persen, sedangkan terendah dicapai oleh komponen pengeluaran konsumsi LNPRT sebesar -5,20 persen. Sementara secara (y to y) pertumbuhan ekonomi tertinggi pada triwulan III 2019 terhadap triwulan III 2018 dicapai oleh pengeluaran konsumsi LNPRT sebesar 7,44 persen sedangkan terendah dicapai oleh komponen impor barang dan jasa yang tumbuh negatif sebesar -8,61 persen. 
Tabel 5. Laju Pertumbuhan PDB Menurut Pengeluaran (persen)

   Berdasarkan Tabel 6 dapat dilihat bahwa struktur PDB selama triwulan II-III 2019, komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga masih menjadi komponen yang paling dominan dalam perekonomian Indonesia. Sementara komponen yang memiliki distribusi terkecil adalah komponen pengeluaran konsumsi LNPRT, dimana pada triwulan III 2019 sebesar 1,25 persen lebih kecil dibandingkan dengan triwulan II 2019 sebesar 1,34 persen. 
Tabel 6. Struktur PDB Menurut Pengeluaran (persen)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kondisi Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia Triwulan I 2019

POSISI SURAT BERHARGA NEGARA (SBN) UPDATE SEPTEMBER 2019

Indonesia’s economic stimulus not enough to stop layoffs, focus should be to contain COVID-19: Experts